Wednesday, February 8, 2012

Amelia Fauzia: KAGUMI BUKHARI DAN MUSLIM

Oleh Indah Wulandari
(Republika, 14 Oktober 2011)

Baginya, penelitian adalah dunia yang sangat menarik. Penelitian pula yang membuatnya bisa melanglang buana. Karena itu, ia ingin lebih banyak lagi perempuan Muslim yang terjun ke ranah penelitian seperti dirinya. Tapi, mengapa ia begitu mengagumi dua perawi hadis terkemuka, Bukhari dan Muslim?

Ia ingin lebih banyak lagi wanita Muslim menekuni dunia riset.

Dunia penelitian tak kenal batas negara. Wakil Ketua Lembaga Penelitian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Amelia Fauzia, membuktikannya. Penelitian ilmiahnya di bidang filantropi dan kultur Islam pada komunitas Muslim dilakukan di enam negara, yaitu Indonesia, India, Inggris, Mesir, Tanzania, dan Turki.

“Muslim di Indonesia juga memiliki kesadaran untuk melakukan perubahan sosial melalui filantropi atau kedermawanan,“ ujar Amelia yang sedang mengikuti Visiting Fellow di School of Humanities and Social Sciences of University of New South Wales (UNSW), Canberra, Australia.

Penelitiannya di enam negara yang dilakukan pada 2002-2004 tersebut menemukan bahwa praktik filantropi Islam masih dalam bentuk tradisional, yakni berupa pemberian zakat, sedekah, dan wakaf. Sayangnya, lanjut Amelia, sebagian besar tidak dikelola secara baik oleh organisasi yang profesional, karena masyarakat lebih suka memberikan langsung kepada orang-orang yang dianggap tidak mampu. Hanya Turki yang sedikit lebih baik pengelolaan filantropi Islamnya, rata-rata sudah dalam bentuk yayasan.

“Yang lebih penting adalah filantropi Islam di negara-negara ini menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar untuk kesejahteraan, dan berpotensi mendorong keadilan sosial,“ ujar salah satu pengurus Badan Wakaf Indonesia ini.

Sebagai peneliti, Amelia ingin mengemukakan fakta apa adanya.
“Itulah integritas seorang peneliti yang sudah ditunjukkan oleh para ilmuwan Muslim terdahulu seperti Ibnu Khaldun,“ ujar dia.

Ketertarikan Amelia menekuni penelitian mulai muncul sejak tahun-tahun terakhirnya belajar di pesantren. Alumnus Pesantren Darunnajah, Jakarta, ini sangat mengagumi sosok Imam Bukhari dan Muslim. Dia terpikat dengan gaya mereka dalam melakukan penelitian hadis, menelusuri keaslian hadis, sampai melihat karakter orang yang meriwayatkannya satu per satu.

Cara kerja mereka, kata Amelia, sama dengan peneliti modern. Jika ada salah satu orang dalam rantai hadis yang mereka anggap kurang dipercaya, misalnya suka berbohong maka mereka mencari narasumber lain jika memungkinkan, atau hadis yang diriwayatkan tidak mereka masukkan dalam kumpulan hadis shahih. “Imam Bukhari dan Muslim memiliki integritas, memiliki sikap ilmiah dan objektivitas yang tinggi,“ ujarnya.

Latar belakang pendidikannya, diakui Amelia, memengaruhi jalan hidupnya. Dia belajar sejarah Islam sejak kuliah S1 di Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (sekarang Sejarah Peradaban Islam) Fakultas Adab, UIN Jakarta, dan berlanjut ke pendidikan S2 di Universitas Leiden, Belanda. Di tahun akhir kuliah S1, dia mengikuti program di HP2M (Himpunan untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat), se buah lembaga di bawah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Kunci sukses
Amelia juga mendorong kemunculan para perempuan peneliti dari Indonesia. Diakuinya, perempuan yang menekuni dunia riset memang langka. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain, terma suk negara maju. Namun, ia optimistis, nantinya akan muncul banyak perempuan peneliti di Indonesia. Saat ini, misalnya, ia melihat cukup banyak wanita Muslim yang menjadi peneliti, baik di bidang sains maupun ilmu sosial.

Baginya, penelitian telah menjadi dunianya. Menurut dia, selalu ada hal yang menarik dan menantang untuk diteliti. Pekerjaan sebagai peneliti juga membawa seseorang tidak terbatas hanya melakukan penelitian di tempat kerja sendiri, tapi bisa berkolaborasi dengan lembaga lain. Berbagai penelitian juga telah membawanya berkeliling dunia. Mulai dari Singapura, Australia, Kanada, Amerika, Jerman, Mesir, Turki, Thailand, Prancis, dan Belanda. Undangan mengisi seminar di beberapa negara juga selalu mengisi jadwalnya.

“Setidaknya ada tiga hal yang sangat membantu pekerjaan saya hingga sukses,“ ungkapnya.
Pertama, Amelia bersyukur mendapat dukungan dari suami dan anak-anaknya. Sang suami memberi kesempatan yang sangat luas baginya untuk berkarya. Pada saat yang sama, dia selalu berusaha bersikap objektif dan menjaga integritas akademis. Terakhir, dia senantiasa menjaga silaturahim. “Suamilah di sini yang sangat berperan membantu menjaga keseimbangan karier dan keluarga,“ puji Amelia kepada belahan jiwanya.

n ed: wachidah handasah

- - -

BIODATA

Nama: Dr. Amelia Fauzia
Lahir: Tangerang, 25 Maret 1971

Pendidikan
• Program Doktoral, Asia Institute, the University of Melbourne.
Bidang Sejarah Indonesia dan Studi Filantropi, 2004-2008
• Master (S2) dalam Islamic Studies di University of Leiden, 1996-1998, cum laude.
• S1, Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1990-1995, cum laude.
• Aliyah, Pesantren Darunnajah Jakarta, 1984-1990, cum laude.

Pengalaman Kerja dan Pekerjaan Saat ini:
• Wakil Ketua, Lembaga Penelitian, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2011-sekarang).
• Anggota pengurus, Badan Wakaf Indonesia (BWI), Bidang Penelitian dan Pengembangan (2010-sekarang).
• Dosen Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2010-sekarang).
• Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1999-sekarang).
• Direktur program Tabungan Kesehatan Masyarakat (2010-sekarang).
• Anggota Council, Asian Muslim Action Network (AMAN), perwakilan untuk Indonesia (2011-sekarang).
• Direktur proyek penelitian internasional “Islamic Philanthropy for Social Justice in Muslim Societies, membawahi enam Negara: Mesir, Indonesia, India, Tanzania dan Inggris (2002-2004).
• Peneliti Muda (Himpunan Penelitian dan Pengembangan Masyarakat – HP2M), Jakarta (1994-1995).
-----
http://koran.republika.co.id/koran/0/145409/Amelia_Fauzia_Kagumi_Bukhari_dan_Muslim

No comments: